P
RAMOEDY ANANTA TOER
Pramoedya, putra seorang guru sekolah, pergi ke Jakarta, sementara seorang remaja dan bekerja sebagai juru ketik yang ada di bawah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II. Ketika Indonesia pemberontakan terhadap penjajahan Belanda diperpanjang aturan pecah di 1945, ia bergabung dengan nationalists, bekerja di radio dan menghasilkan sebuah bahasa Indonesia-majalah sebelum ia ditangkap oleh pihak berwenang di Belanda 1947. Dia pertama kali diterbitkan, menulis novel, Perburuan (1950; The buronan), selama dua tahun di sebuah kamp penjara Belanda (1947-49). Karya ini menggambarkan penerbangan dari Jepang anti-pemberontak kembali ke rumahnya di Jawa.
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1949, Pramoedya menghasilkan alirannya novel dan cerita pendek yang mendirikan reputasi. The novel gerilja Keluarga (1950, “Keluarga gerilya”) kronik yang tragis akibat dari sympathies dibagi politik dalam keluarga Jawa selama Revolusi Indonesia Belanda terhadap aturan, sedangkan Mereka jang dilumpuhkan (1951; “The lumpuh”) yang menggambarkan odd assortment dari narapidana Pramoedya menjadi berkenalan dengan Belanda di kamp penjara. Cerita pendek yang dikumpulkan dalam Subuh (1950; “Dawn”) dan Pertjikan Revolusi (1950; “Percikan api dari Revolusi”) diatur selama Revolusi Indonesia, sedangkan dalam Tjerita dari Blora (1952; “Tales of Bora”) melukiskan provinsi Jawa hidup di masa pemerintahan Belanda. Sketsa di dalam Tjerita dari Djakarta (1957; “Tales of Jakarta”) memeriksa jenis dan injustices Pramoedya dirasakan dalam masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan yang telah dicapai. Pada awal karya Pramoedya berkembang yang kaya prosa gaya yang mencakup Jawa sehari-hari bicara dan gambar dari budaya Jawa klasik.
Pada akhir tahun 1950-an telah menjadi Pramoedya bersimpati terhadap Partai Komunis Indonesia, dan setelah 1958 dia ditinggalkan untuk esai fiksi dan budaya kritik yang mencerminkan pandangan sayap kiri. Oleh 1962 ia menjadi dekat dengan komunis aligned disponsori budaya kelompok. Akibatnya, dia yg dipenjarakan oleh tentara dalam kursus dari penindasan berdarah dari pemerintahan komunis di tahun 1965. Selama penjara ia menulis sebuah rangkaian empat novel sejarah yang lebih ditingkatkan kepada reputasi. Dua ini, Bumi manusia (1.980; ini dari Bumi Manusia) dan Anak semua bangsa (1.980; Child of All Nations), bertemu dengan tepuk tangan sorak kritis dan populer di Indonesia setelah publikasi mereka, tetapi pemerintah kemudian mereka dilarang dari peredaran, dan terakhir dua volume dari tetralogi, Jejak langkah (1985; jejak) dan Rumah kaca (1988; Rumah Kaca), harus diterbitkan di luar negeri. Akhir ini bekerja secara komprehensif menggambarkan masyarakat Jawa di bawah pemerintahan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Kontras ke Pramoedya dari sebelumnya bekerja, mereka yang ditulis dalam plain, bergerak cepat gaya naratif.
Setelah itu lepaskan dari penjara pada tahun 1979, Pramoedya yang disimpan di bawah tahanan rumah di Jakarta sampai 1992. Autobiografi yang nyanyi Sunyi seorang bisu (The Mute dari percakapan seorang diri) telah diterbitkan pada tahun 1995.
by:britannica,wiki/rid
pramodya, saya suka quote nya di anak-anak bangsa hal 154
Oleh: perempuan on April 1, 2009
at 3:41 am
Pramodya adalah salah satu tokoh sastra yang sulit kita temukan pada generasi setelahnya
Oleh: achmad sholeh on April 2, 2009
at 12:23 am